SEO Insight: SCALE UP

Jadi pura-puranya saya sedang shock.

Padahal shock beneran ^_^

Ceritanya, sekitar sebulan lalu saya berdiskusi dengan salah seorang kawan pemain affiliate Amazon. Sama kayak saya. Doi mengandalkan traffic 100% dari SEO. Juga sama kayak saya.

Bedanya terdapat pada cara kami melakukan SCALE-UP.

Dan topik inilah yang akan saya bahas sekarang untuk memberikan insight kepada Anda yang mudah-mudahan bisa bermanfaat.

So mari kita kemon.

Scale UP on SEO

Tidak jauh berbeda dengan bisnis pada umumnya, di SEO kita juga mengenal istilah SCALE UP, yaitu sebuah upaya untuk memperbesar bisnis dengan tujuan untuk memperbesar traffic yang diatas kertas akan memperbesar income.

Secara umum, ada 2 macam metode scale yang dapat digunakan:  HORIZONTAL dan VERTICAL.

Horizontal scale dilakukan dengan memperbanyak titik. Sementara Vertical scale dilakukan dengan memperbesar titik.

Contoh: Si A memiliki sebuah toko bangunan dan ingin memperbesar usahanya. Maka ia dapat melakukan 2 opsi: pertama memperbesar tokonya (Vertical scale) atau kedua membuka cabang toko di tempat lain (Horizontal Scale).

Tentu saja, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, dari sisi mana pun itu. Tidak ada satu yang lebih superior.

Lalu disinilah saya ajak Anda untuk kembali kepada kisah tentang saya dan kawan saya tadi.

Begini ceritanya,

Saya dan doi merupakan affiliate Amazon selama bertahun-tahun. Penghasilan kami tidak jauh berbeda, sekitar 5 digitlah setiap bulan, lumayan buat beli kuaci ^_^

Saya sendiri mengelola ratusan blog yang didedikasikan khusus untuk bermain di affiliate Amazon yang mencakup hampir semua niche, dari makanan kucing sampai kulkas ukuran jumbo. Prinsipnya, apa aja yang berpontensi laku dijual akan saya jual.

Sementara itu, untuk memperoleh penghasilan tak jauh berbeda dengan yang saya hasilkan, ternyata kawan saya itu hanya memiliki sedikit blog.

Persisnya = 1 (satu).

Yoi. Dia cuma punya 1 blog saja yang dipakai untuk bermain affiliate Amazon. What a shock?

Ini membawa konsekuensi tentang konten yang kami produksi.

Anggap saya mengelola 100 blog saja, maka jika setiap blog memiliki 100 konten saja, maka kurang-lebih saya harus memproduksi 100 x 100 = 10.000 artikel.

Oke, mungkin kawan saya punya sekitar 10rb artikel di blognya yang cuma 1 itu.

Tapi tebakan saya kurang tepat.

Sebab ternyata blog kawan saya berisi bukan 1000 atau 100 apalagi 10rb, melainkan hanya 11 konten saja.

Saya shock kuadrat. Apalagi? :v

Meski demikian, setelah kami mulai mengeluarkan angka-angka dan variabel-variabel yang lebih detail, akhirnya kami mendapati bahwa ada banyak sekali persamaan dalam berbagai hal yang kami lakukan, baik dari sisi effort, biaya maupun waktu.

Intinya, saya dan kawan punya tantangan dan hasil yang kurang-lebih setara. Hanya aliran SCALE kami saja yang berbeda.

The Art Behind Scale Strategy

Namun tentu saja, bagaimana pun juga kenyataan ini mengusik saya sehingga saya mencoba untuk merenungkan kembali mengenai strategi SCALE yang saya lakukan dalam bermain SEO.

Setelah beberapa hari, saya mendapati sedikit pencerahan, bahwasanya perilaku dan pilihan kita dalam berbisnis sangat dipengaruhi oleh pengalaman serta latar belakang yang kita miliki.

Setidaknya ada 2 alasan yang membuat strategi SCALE saya cenderung horizontal:

– Pertama, saya mantan spammer ^_^
Dunia spammer, seperti yang kita tahu, begitu identik dengan aktivitas ternak akun, promosi nan massive dari konten yang juga diternak sedemikian banyak. Bagi seorang spammer, kuantitas adalah segalanya.

– Kedua, saya percaya dengan prinsip jangan taruh semua telur dalam satu keranjang ^_^
Entah darimana istilah ini pertama kali saya dengar, tetapi begitu nyangkut dalam kepala. Memiliki sedikit keranjang secara otomatis akan membuat saya kuatir, seaman apa pun itu.

Di sisi lain, saya tahu persis jika kawan saya adalah seorang perfeksionis yang membuatnya sulit memercayai orang lain sehingga lebih suka bekerja single fighter. Beberapa histori pekerjaanya yang lain yang tidak bisa saya ceritakan disini membuat saya bertambah yakin jika strategi SCALE memang cenderung dipengaruhi oleh latar belakang seseorang.

Tentu saja, sekali lagi, tidak ada yang keliru atau ada yang lebih hebat dalam strategi SCALE, vertical maupun horizontal. Keduanya hanya masalah pilihan.

Sebab 1 minggu kemudian ketika kami menyempatkan diri untuk kembali berdiskusi, kami pun melontarkan hal-hal yang baru dan segar:

Secara perlahan, saya telah melakukan scale vertical pada web yang saya miliki untuk memaksimalkan hasilnya seperti yang kawan saya lakukan. Sementara kawan saya itu sudah menambah blog nya menjadi 3 buah dan mulai merekrut penulis seperti yang saya lakukan.

Diskusi yang kami lakukan ternyata berhasil membuat kami untuk melihat sebuah hal yang sama dari kacamata baru yang berbeda. Dan itu tentu saja bagus untuk kami berdua.

Sebagai penutup, saya berharap kisah saya dan kawan saya dapat membantu Anda untuk menentukan strategi SCALE yang Anda lakukan saat ini maupun di masa mendatang yang tak hanya dapat digunakan untuk SEO, tetapi juga mencakup berbagai ruang lingkup bisnis yang lain.

 

telegram

Semoga bermanfaat,
RA

Recent Posts

Categories

Written by:

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × three =