Marshmallow Test: Bagaimana Menunda Kesenangan Dapat Memberi Kesuksesan?

M

Kita selalu penasaran: tentang masa depan kita, tentang masa depan anak-anak kita.

Walter Mischel, seorang professor psikologi ternama dari Colombia University adalah orang yang paling memahami topik ini.

Selama beberapa dekade, Mischel,  telah melakukan riset dan percobaan ilmiah untuk mempelajari perilaku yang berkaitan dengan masa depan seseorang. Percobaan yang mirip kemudian juga dilakukan oleh banyak peneliti lainnya dengan hasil yang relatif sama.

Namanya Marshmallow Test.

Dan beginilah percobaannya:

Mischel mengetes beberapa anak berumur empat dan lima tahun. Masing-masing dari anak tersebut dibawa ke dalam suatu ruangan dan sebuah marshmallow ditaruh di meja di depan anak itu. Mereka lalu diberitahu bahwa mereka boleh memakan marshmallow tersebut sekarang, tetapi apabila mereka menunggu 20 menit, ia akan kembali dan memberikan mereka tambahan satu marshmallow.

Hasilnya, sepertiga dari anak-anak tersebut memakan marshmallow dengan segera, sepertiga lainnya menunggu hingga ia kembali dan mendapatkan dua marshmallow, sementara sisanya berusaha menunggu tetapi akhirnya menyerah setelah waktu yang berbeda-beda.

Tujuan awal dari percobaan ini adalah untuk mengetahui proses mental yang membuat seseorang menunda kepuasaannya saat ini untuk mendapatkan kepuasan yang lebih pada masa mendatang.

Namun hasil yang mengejutkan dari percobaan ini justru didapatkan setelah anak-anak yang ikut dalam percobaan beranjak dewasa dan telah memasuki sekolah menengah.

Mischel mendapati perbedaan antara anak-anak yang berhasil menunggu dan yang tidak.

Mereka yang menunggu cenderung lebih pandai membuat rencana dan mengatasi masalah. Anak-anak tersebut juga mempunyai kepercayaan diri lebih tinggi dan keterampilan mengatur emosi lebih baik. Bahkan, penelitian lebih lanjut menyebutkan bahwa anak-anak ini cenderung terhindar dari penyalahgunaan obat-obatan. Mereka pun lebih sukses dengan nilai mereka yakni rata-rata 201 poin lebih baik dibandingkan mereka yang tidak bisa menunggu.

Sementara itu, di sisi berlawanan, penelitian memperlihatkan bahwa anak-anak yang tidak tahan godaan akan lebih berisiko gemuk atau obesitas 30 tahun kemudian dan memiliki kesehatan umum yang lebih buruk saat dewasa.

Well, tentu penelitian ini juga mendapatkan banyak kritik dan dipertanyakan validitasnya mengingat ada banyak sekali faktor dan variabel lainnya yang dapat memengaruhi hasil. Mischel pun menerima kritik-kritik tersebut.

Tapi meski demikian, tetap saja ada berbagai pelajaran penting dari Marshmallow test, beberapa diantaranya bahkan cukup fundamental dan dapat mengubah cara kita bersikap untuk memperoleh hal yang lebih besar dalam hidup kita.

Itulah yang akan kita bahas.

Instant Gratification – Pemuasan Instan

Instant Gratification atau Pemuasan instan adalah istilah yang mengacu pada godaan untuk mengorbankan manfaat masa depan demi mendapatkan manfaat secara langsung saat ini yang lebih kecil.

Kita tahu, menahan hawa nafsu adalah kelemahan utama pada manusia. Kita lebih menginginkan sesuatu sekarang ketimbang nanti meski itu jauh lebih besar. Ini adalah insting hewani dan alami pada manusia.

Masalahnya, jika tidak dikelola dan dilatih dengan baik, pemuasan instan dapat memberikan dampak yang sangat merugikan.

Dalam berbagai studi psikologi, disebutkan jika individu yang mencari kepuasan instan berisiko tinggi terhadap penyalahgunaan zat adiktif, narkoba, masalah obesitas, seksual dan kejiwaan. Mereka akan lebih sulit untuk mengatur emosi serta menderita disfungsi mood yang menyengsarakan.

Tapi itu memang titik lemah kita.

Tak heran jika kita hidup dan begitu maniak terhadap platform-platform dan solusi-solusi instan. Dari timeline sosial media yang menyuguhkan pemuasan instan dan stimulasi berlebihan akan informasi, hiburan, kepuasan seksual hingga tipu-tipu bisnis instan untuk kaya instan yang semakin populer.

Dalam scope yang lebih luas, pemuasan dan solusi instan bahkan berpotensi untuk mengacaukan peradaban.

Yale Scientific Magazine mengungkap fakta bahwa kebutuhan manusia untuk kesembuhan instan bahkan hanya untuk sakit yang sebetulnya dapat sembuh sendiri tanpa obat akan mempercepat resistensi terhadap antibiotik. Inilah pemicu bakteri-bakteri dan virus-virus yang kian hebat.

Kita pun dapat melihat meningkatknya popularitas obat kurus, obat gemuk, obat sixpack, obat mulus, obat-obatan yang memberikan iming-iming instan yang laris-manis tanjung kimpul, meski hasilnya patut dipertanyakan.

Berlangganan blog ini

Dapatkan konten terbaru dari saya langsung ke email Anda. Gratis!

This information will never be shared for third part

Makanan-makanan instan, fast food, junk food, secara sistematis membuat sakit masyarakat.

Penggunaan gadget-gadget serta kebutuhan akan stimulasi instan berakibat pada meroketnya kasus kecelakaan saat berkendara.

Kecanduan narkotika sebagai solusi instan dari berbagai masalah dan pemuasan diri bertumbuh pada angka-angka yang mengkhawatirkan.

Lalu apa yang bagus dari instan?

Padahal, agama mengajarkan kita untuk menahan diri dengan berpuasa. Orang-orang bijak menganjurkan kita untuk bersabar dan menghargai proses panjang sebelum merengkuh kepuasan. Para binaragawan berkata no pain no gain.

Tapi tentu saja, menghindari yang instan bukan berarti jadi lamban. Menghargai proses bukan berarti memilih jalan yang susah. Tidak cinta bukan berarti benci. Sayang bukan berarti serampangan.

Sebagai contoh:

Saya mencintai anak-anak saya. Jika diperlukan, saya bahkan rela bertukar nyawa dengan mereka.

Namun menghadirkan fasilitas atau memberi hadiah instan tanpa mendidik sikap sabar, tanpa mengajarkan tentang apa itu berusaha, tanpa mendorong untuk senantiasa menghargai proses hanya akan menjerumuskan mereka ke dalam mentalitas instan yang sangat merugikan, terutama bagi masa depannya.

Hal serupa juga berlaku bagi diri kita sendiri. Memberikan pemuasan instan yang semakin mudah kita dapatkan tanpa pernah berlatih sabar, tanpa pernah menghargai proses panjang, tanpa mau mencoba untuk menahan diri dan birahi, tanpa mau bekerja keras, hanya akan merugikan diri kita sendiri.

Maka pada akhirnya, semua ini adalah tentang pengendalian diri.

Dan bukankah ini adalah pelajaran pertama kepada manusia melalui kisah Adam-Hawa dan godaan buah terlarang?

Self Control – Pengendalian diri

Marshmallow test adalah sebuah pelajaran sederhana tentang pengendalian diri.

Tes ini menunjukkan korelasi antara kemampuan untuk menahan godaan dengan pengendalian diri yang baik dan level kesuksesan seseorang.

Dalam eksperimen psikologi lain yang berhubungan disebutkan jika manusia cenderung membuat keputusan-keputusan yang lebih bijaksana saat berhasil menahan diri tetapi selalu kepayahan saat menghadapi godaan-godaan yang ada di depan mata.

Bayangkan kamu akan mendapatkan 10 juta 12 bulan dari sekarang. Lalu kamu ditawarkan 11 juta, satu juta lebih banyak jika kamu bersedia untuk menunggu selama 13 bulan atau sebulan lebih lama.

Dalam eksperimen, mayoritas orang bersedia untuk menunggu karena mendapatkan 10% lebih banyak dalam waktu sebulan adalah hal yang patut untuk diperjuangkan. Ini menunjukkan jika mayoritas orang mampu berpikir bijaksana setelah dapat menahan diri selama 12 bulan.

Sekarang bagaimana jika kamu ditawarkan untuk mendapat uang 10 juta detik ini juga. Lalu kamu diberikan penawaran lain yaitu 11 juta, satu juta lebih banyak jika kamu bersedia menunggu bulan depan.

Apa yang akan kamu lakukan?

Dalam eksperimen, mayoritas orang akan mengambil uang 10 juta yang ada di depan mata tanpa sedikit pun keraguan.

Well, dengan benefit yang sama, jangka waktu yang sama, keputusan yang dibuat dapat sama sekali berbeda.

Darisini kita diberitahu bahwa pengendalian diri yang baik dengan melatih menahan hawa nafsu atau menunda kesenangan atau bersabar, akan memberikan kebijaksaan bagi kita untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal.

Dan inilah juga yang sesungguhnya membedakan manusia dan hewan.

Sebab tak ada anjing paling pintar, simpanse paling jenius, tikus paling licik, atau hewan apa pun yang dapat menahan diri untuk tidak memakan satu tulang, satu pisang atau satu potong keju hari ini untuk mendapatkan dua tulang, dua pisang atau dua potong keju besok.

Demikianlah, pengendalian diri merupakan kemampuan spesifik pada manusia yang dapat dan harus senantiasa kita latih. Ini adalah kemampuan untuk mengendalikan dan mengatur respons diri untuk menghindari perilaku yang tidak diinginkan, meningkatkan tingkah laku yang dibutuhkan, serta meraih tujuan. Menunda kesenangan saat ini untuk kesuksesan masa depan.

Dan kesabaran merupakan bentuk tertinggi dari pengendalian diri.

Maka benarlah kata pepatah: sabar itu pahit tapi berbuah manis dan orang sabar memang disayang Tuhan.

Semoga bermanfaat,
RA

telegram

About the author

Rianto Astono

an author, book obsessive, writing enthusiast, associate, blogger. Internet marketer since 2004.

Get in touch

Please send your email directly to rianto@gaptex.com or follow me via social channels below: