Melihat IPO GoTo Pakai Kacamata Lebar [INSIGHT]

M

Insight ini merupakan pembahasan lanjutan dari video saya mengenai IPO GoTo yang publish pada 17 Maret 2022. Saya sangat menyarankan Anda untuk menontonnya terlebih dahulu jika belum.

Sebelum mulai membaca, berikut beberapa hal yang perlu diketahui:

1. Disclaimer on. Seluruh insight yg akan diberikan bukan merupakan saran atau rekomendasi untuk membeli, apalagi dianggap sebagai pompom saham.
2. Saya tidak diendorse atau dibayar oleh pihak mana pun untuk memberikan insight ini.
3. DYOR – Do your own research – Lakukan analisa mandiri serta ketahui seluruh risiko sebelum mengambil keputusan investasi.

Kalau sudah jelas, silakan lanjut.

Perlu diketahui jika disini kita tidak membahas prospektus atau hal-hal teknis dari perusahaan, alasannya:

  1. Sudah banyak dibahas oleh para analis saham
  2. Dibutuhkan ruang yang sangat besar untuk mengulas itu semua.

Saya akan mengajakmu untuk melihat IPO GoTo ini menggunakan kacamata yang lebih lebar, yakni mengenai brand, bisnis serta kontribusinya pada perekonomian Indonesia.

Sebagaimana yang kita semua tahu, Tokopedia dan Gojek adalah 2 brand paling kuat di industri digital tanah air. Gabungan dari keduanya, GoTo, menghasilkan perusahaan dengan ekosistem digital terbesar di Indonesia.

Tak heran jika kemudian kontribusinya terhadap ekonomi dalam negeri berada di angka nyaris 2% dari PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia.

Ada pun PDB Indonesia tahun 2021 mencapai Rp 16.970,8 triliun.

Dengan demikian, saya sangat confident untuk memberikan reaksi yang sama kepada pertanyaan:

Bro, saya mau beli BBCA, gimana kalau nanti sahamnya jadi 0 atau Bank BCA bangkrut?

Jawabannya: kalau BCA bangkrut, maka yakinlah saat itu terjadi maka perekonomian Indonesia pasti juga sedang bangkrut. Apa pun saham yang Anda pegang akan lebih hancur.

Logikanya sederhana, BCA adalah bank terbesar dengan market cap terbesar di IHSG. Eksistensinya akan secara langsung berbanding lurus dengan kondisi perekonomian kita.

Fenomena tersebut diistilahkan sebagai “too big to fail”. BCA terlalu besar untuk hancur. Dan ketika ia hancur, maka hancurlah kita semua.

Fenomena yang sama juga terjadi pada GoTo. Malah mungkin lebih signifikan.

Coba lihat saja, ada berapa banyak orang, berapa banyak keluarga dan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada GoTo?

Super banyak. Tidak perlu saya jabarkan angkanya. Kita semua dapat melihatnya sendiri.

Sekarang bayangkan jika suatu hari GoTo bangkrut atau tutup, tentulah kita semua akan merasakan dampaknya.

Maka GoTo adalah perusahaan “too big to fail” yang akan senantiasa dijaga tak hanya oleh para pemiliknya, tetapi oleh kita semua.

Dari sisi brand, saya pun yakin GoTo akan menjaga reputasinya sedemikian rupa.

Saham sendiri merupakan salah satu aspek yang mewakili brand karena itu merepresentasikan kepemilikan. Jika saham turun, ARB berjilid-jilid tanpa sebab yang jelas atau harganya turun jauh melewati harga IPO, maka dampaknya secara langsung maupun tidak langsung pasti akan menganggu bisnis GoTo secara keseluruhan.

Sekurang-kurangnya itu akan menimbulkan banyak cibiran, serangan, review busuk yang begitu memalukan. Perusahaan yang bagus tidak menginginkan ini terjadi.

NOT AN EXIT PLAN

Lagipula IPO kali ini memang bukan bagian dari exit strategy melainkan hanya langkah awal perusahaan menuju level berikutnya yang lebih strategis.

Setidaknya ada 2 alasan:

  1. Dana yang diperoleh dari IPO sebesar Rp 17,99 triliun tidak sebanding dengan uang Rp 130 triliun lebih yang sudah dihabiskan oleh pemodal ventura untuk membangun perusahaan
  2. GoTo memiliki rencana untuk IPO di bursa luar negeri dalam 2 tahun ke depan yang keberhasilannya tentu akan bercermin kepada IPO serta pergerakan sahamnya di bursa Indonesia.

Dilihat dari sisi kematangan market, perlu diketahui jika perusahaan rintisan digital di Indonesia saat ini sudah berada di fase transisinya.

Berlangganan blog ini

Dapatkan konten terbaru dari saya langsung ke email Anda. Gratis!

This information will never be shared for third part

Perjalanan sudah masuk dekade kedua dimana bakar uang telah berlangsung lebih dari 10 tahun lamanya.

Ini berarti (1) para pemenang nampak semakin jelas (2) kompetitor semakin sulit bersaing (3) gap semakin jauh (4) pemain baru nyaris mustahil untuk masuk boro-boro mengganggu (5) episode cetak profit dapat mulai untuk dipertimbangkan.

WINNER TAKES ALL

Seperti yang pernah saya jelaskan perihal bagaimana perusahaan bakar-bakar uang dapat memperoleh keuntungan, yaitu saat monopoli terjadi dimana pemenang utama telah dilahirkan, maka pola yang sama diprediksi juga akan terjadi di Indonesia. Saya tidak melihat terdapat alasan bagi Indonesia untuk menempuh jalan yang berbeda.

Dan kita sama-sama tahu jika merek perusahaan digital di Indonesia yang paling kuat saat ini, paling besar ekosistemnya, paling konsisten pertumbuhannya, paling berdampak, paling disruptif dan paling raksasa, adalah Gojek dan Tokopedia, GoTo. Tidak diragukan lagi.

Maka terus-terang saja, jika perusahaan terbesar ini pada akhirnya tidak dapat mendulang profitnya di masa depan yang mana itu merupakan tujuan dari setiap bisnis dibuat lantas hancur lebur karenanya, barangkali kita semua harus mendefinisikan kembali apa itu bisnis.

Selain itu, ada beberapa fakta yang mungkin perlu Anda ketahui mengenai IPO GoTo untuk menjelaskan komitmennya:

  1. Tidak seperti merek sebelah atau beberapa perusahaan digital lain yang ditinggalkan oleh founder dan co founder nya ketika terdapat satu atau lebih aksi korporasi, GoTo masih menjalankan misi dan visi kuat dari founder dan co foundernya. Mayoritas bahkan masih berada di jajaran komisaris dan direksi perusahaan.
  2. Posisi tersebut pun ditegaskan melalui aturan SHSM (saham hak suara multiple) dalam perusahaan dimana meski para founder hanya memiliki saham minoritas sebanyak 6,02% namun hak suaranya adalah sebesar 58,01%. Ini membuat mereka tidak dapat dikontrol seenak jidat oleh para pemodal besar.
  3. Terdapat skema Greenshoe / stabilisasi harga serta Lock up saham sebagai komitmen untuk menjaga harga saham.

Sebagai referensi tambahan, berikut pergerakan harga saham dari perusahaan-perusahaan digital pemenang yang melantai di bursa yang pada saat IPO mayoritas masih berada pada kondisi merugi.

Amazon

Google

Meta

Microsoft

Kesimpulan

Well semua ini adalah pertimbangan dari kacamata yang lebih lebar yang membuat saya pada akhirnya memutuskan untuk ikut IPO GoTo dan berencana menyimpannya dalam jangka panjang. Sangat panjang.

Saya memprediksi, meski kenaikannya akan pelan dan mungkin saja ARB terjadi berkali-kali, tetapi GoTo tak akan pernah menyentuh harga IPO nya kembali.

Demikian insight ini dan Anda tak boleh percaya begitu saja apalagi cuma ikut-ikutan.

Sekali lagi, DYOR dan Disclaimer on.

22 Maret 2022.

Regards,
RA

telegram

About the author

Rianto Astono

an author, book obsessive, writing enthusiast, associate, blogger. Internet marketer since 2004.

Get in touch

Please send your email directly to rianto@gaptex.com or follow me via social channels below: