Belajar dari UBER

Tahun 2017 memang telah berlalu. Tetapi ada satu pelajaran penting dari peristiwa teknologi yang terjadi pada penghujung tahun yang barangkali dapat menjadi pintu masuk untuk melihat dan belajar tentang insight yang akan terjadi di tahun 2018, khususnya di ranah online.

Pelajaran itu datang dari Uber, layanan transportasi online terkenal asal Amerika Serikat yang 15% sahamnya baru saja dibeli oleh Softbank.

Softbank sendiri merupakan perusahaan teknologi raksasa Jepang yang terbilang cukup rajin menyuntikkan dana besar untuk teknologi transportasi berbasis daring seperti Didi di China, Grab di Asia Tenggara, Ola di India, dan beberapa investasi kakap di perusahaan teknologi lainnya, termasuk ARM, Paytm, juga tak ketinggalan Tokopedia.

Pembelian 15% saham Uber oleh Softbank sebetulnya hal yang sangat biasa terjadi seandainya dinilai dengan harga yang wajar. Sayangnya tidak wajar, karena ternyata Uber memberikan diskon cukup wah dalam transaksi tersebut berakibat valuasi perusahaan melorot jauh dari USD 70 miliar di 1,5 tahun silam menjadi hanya USD 48 miliar saja saat ini.

Diakui oleh Uber sendiri, ini adalah buntut dari kompetisi yang sangat berat di layanan transportasi online, terutama dengan Lyft di Amerika Serikat yang disokong oleh (salah satunya) raksasa Google, juga pertarungan berdarah-darah di Asia Tenggara dengan pemain lokal seperti GoJek maupun Grab yang membuat Uber ngos-ngosan dan sesak nafas.

Padahal, Uber telah berencana untuk melakukan penjualan saham kepada publik (IPO) pada 2019, dimana ini biasanya menjadi lumbung untuk meraup uang terbesar sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Amazon, Google, Apple, Alibaba dan perusahaan teknologi raksasa lain sebelumnya.

Tetapi sebagai sebuah perusahaan, melantai atau tidaknya mereka di bursa saham, banyak atau tidak dana baru yang disuntikkan, besar atau kecilnya valuasi perusahaan, pertanyaan besar untuk Uber hanya ada satu: bagaimana mereka akan mulai meraup untung? Sebab setelah 8 tahun beroperasi di AS dan belum meraih untung, metode bisnis mereka mulai dipertanyakan oleh banyak orang.

Dan dari sinilah, kita masuk ke insight 2018.

Pada Q4 2017, kita dapat mengendus antiklimaks pada apa pun yang terjadi di dunia online. Ada banyak sekali hal dan method yang sebelumnya bagus berkurang tajinya atau malah jadi jelek sama sekali.

Bosan barangkali penyebabnya. Lebih tepatnya jenuh. Yang pada suatu titik pasti akan runtuh.

Ruang lingkup fenomena ini terjadi luar dalam, pada audience dan diantara para pelakunya sendiri.

Bukan. Saya tidak sedang membahas Youtube Rewind Indonesia yang tak ada di tahun 2017, atau fenomena Harbolnas yang sudah hilang semarak, atau free ongkir yang tak lagi bikin geregetan. Saya hanya ingin menyampaikan jika hampir seluruh metode yang direpetisi, trik yang diulang, cara yang begitu-begitu saja akan selalu punya masa kadaluarsa, dimana kemungkinan besar akan jatuh tempo di tahun 2018 ini.

Ekosistem menuntut terobosan dan sumber vitamin baru yang lebih merangsang.

Dan ini selalu berarti: Pertama, setiap guncangan akan mencari sebuah keseimbangan baru. Kedua, pintu peluang terbuka lebar bagi setiap orang yang berada di dalamnya.

Secara prinsip, seperti yang kita selalu rasakan, platform online merupakan sesuatu yang bertransformasi dengan gegas. Begitu lekas menyambar, hilang, timbul dan tenggelam. Sehingga tak berubah adalah hal yang gegabah.

Namun terus berubah tidak sama artinya dengan tidak fokus. Sebab kita harus selalu fokus. Pada goal.

Sebab jangan fanatik dengan methodmu.
Fanatiklah dengan goalmu.

Solusinya adalah senantiasa upgrade ilmu, investasi leher keatas supaya tidak kehabisan referensi. Tetapi jangan pula larut atau malah terjebak dalam sistem dan formula yang baku, karena sumber kreativitas tanpa batas serta gaya orisinil yang dibutuhkan dan dicintai sesungguhnya berada dalam cerebrum otak kita sendiri.

MARKETPLACE

Pertarungan di ranah marketplace mungkin mulai menumpahkan darah di tahun mendatang. Belum di permukaan memang, tetapi akan pemanasan di platform pembayaran. Sebab tahun depan beberapa eMoney seperti Tokocash, Grabpay, Bukadompet, Shopeepay, dll diprediksi akan segera mengantongi izin dari BI setelah melewati masa penantian yang cukup lama.

PR yang cukup menantang mengingat mereka telah tertinggal jauh dari paltform lain yang seperti OVO dan GOPAY yang sudah tancap gas lebih dulu.

Kita tentu akan mendapatkan penawaran cashback-cashback yang menggoda, juga yang menggoda bagi calon konsumen kita.

Tahun depan diprediksi semakin banyak orang yang bermigrasi dari offline maupun web menuju marketplace.

MIGRASI & KOMPETISI

Ada gula ada semut. Dan karena gula-gula itu kini sedang berada di dunia online zaman now, maka semut pun berdatangan.

Migrasi dari retailer besar dan yang sudah mapan di ranah offline menuju online tak akan terelakkan lagi. Juga dari angkatan kerja baru, kids zaman now, generasi milenial yang punya energi besar, punya style pragmatis, punya ide segar dan punya semangat maju tak gentar, seluruhnya akan membanjiri dunia online.

Ini sudah berarti kompetisi yang kian berat.

Tapi seberat apa pun kompetisi yang ada, rahasia untuk menghadapinya hanya satu saja: persistensi.

Jika kita percaya dengan sesuatu, ngototlah. Sebab besar peluang, semut yang lain tak ngotot-ngotot amat.

SOCIAL MEDIA PLATFORM

Saya percaya Facebook masih akan merajalela sebagai platform social media paling berjaya di tahun 2018.

Tetapi rata-rata 8 dari 10 anak muda-muda yang saya interview mengatakan jika mereka lebih memilih Instagram daripada Facebook, dimana hampir seluruhnya tak tahu menahu jika Instagram adalah sesungguhnya milik Facebook. Mereka hanya tidak suka dengan Facebook dan malas menggunakannya kembali.

Dan demi Ustadz Abdul Somad yang sedang tenar-tenarnya (yang menggunakan kedua platform ini secara serempak), kita mungkin akan membuka mata melihat data-data berikut:

– 721K ++ Fans di Facebook & 1.1M ++ Followers di Instagram
– 53K Like, 1500 Komen & 236K Like, 2548 Komen pada status yang sama di Facebook dan Instagram

Maka saya pun percaya jika tahun depan Instagram akan bertambah dahsyat, utamanya sebagai salah satu saluran untuk beriklan dan atau memperkenalkan brand.

Untuk itulah, saya pun menghadirkan KontakK, tool Instagram sederhana tetapi powerful, yang dapat digunakan secara gratis oleh setiap orang.

Selain kedua platform diatas, kemungkinan besar tidak akan ada banyak perubahan: Twitter akan semakin ditinggalkan dan sahamnya terus merosot tajam; Snapchat, Path, Pinterest, dll, hingga Bigo saya prediksi akan begitu-gitu doang.

Jika ada kejutan, mungkin itu datang di video platform, dimana Youtube yang milik Google akan ditantang oleh musuh bebuyutannya, Amazon yang rencananya akan merilis AmazonTube.

LIST

Aset terbesar dari setiap bisnis adalah list, printer uang yang siap digunakan kapan pun dibutuhkan.

Saat ini, walau kita punya banyak sekali cara untuk membangun list, tetapi itu justru semakin menguatkan keyakinan saya apabila list terpenting yang harus dimiliki oleh setiap pebisnis online adalah EMAIL list.

Dan jika harus menambah yang lain, maka saya prefer untuk menggunakan channel di Telegram yang bersifat satu arah sehingga tidak terdistract oleh komentar maupun live feedback. Juga via messenger bot yang belakangan sedang trending (topik ini akan banyak saya bahas di blog tahun depan).

SEO

Percayalah, tidak ada terlalu banyak berubah dengan SEO di tahun 2018. SEO tetap slow, tetap enak, tetap paling bagus konversinya, tetap bikin tidur nyenyak- selama dilakukan dengan benar dalam rambu-rambu yang sudah dijelaskan panjang x lebar dalam buku The Book of SEO.

POLITICS

Saya tidak suka politik, tapi makhluk yang satu ini sungguh mempengaruhi bisnis kita. Salah satu contohnya adalah konversi saya sebagai associates Amazon yang sedikit terdampak tahun lalu akibat berbagai kontroversi Donald Trump yang membuat masyarakat US was-was sehingga tak berbelanja sebagaimana biasanya.

Di dalam negri, tahun ini dan berikutnya kita akan diriuhi oleh politik, dari level kota hingga nasional. Kita akan (untuk kesekian kalinya) diganggu oleh polusi politik dalam bentuk pamflet, reklame, iklan, juga hari libur yang sebetulnya tak perlu ada.

Maka bersiaplah.

CONCLUSION

Lalu apa hubungan antara Uber dan insight yang sudah dituliskan diatas?

Pertama, seluruhnya tak akan berarti apa-apa jika Anda masih belum atau tidak dapat menemukan cara untuk menghasilkan income dari situasi tersebut. Tentu saja income yang cocok, cukup dan sesuai nilainya dengan yang diinginkan.

Kedua, bisnis online tidak sesantai yang dibayangkan, tetapi tak juga serepot itu. Kita harus mampu menjalankannya secara efisien dengan memanfaatkan seluruh tools dan alat bantu yang ada untuk melakukan otomatisasi sebanyak mungkin. Itulah esensi dari berbisnis online.

SHARING 2018

Tahun ini saya akan lebih banyak menulis di blog, channel Telegram dan via email kepada subscribers saya.

Tahun ini juga saya akan membagikan beberapa tools yang 1000% Gratis seperti KontakK.com khususnya kepada para pembaca dan penikmat channel saya.

 

*

Dan tentu, saya bisa salah, sebab seluruh insight diatas hanya berasal dari kacamata pribadi saya semata. Maka Anda tak harus percaya apalagi menelan mentah-mentah seluruh isi catatan ini.

– I don’t want you to think like me. I just want you to think.-

 

telegram

Semoga bermanfaat,
RA

Recent Posts

Categories

Written by:

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × 2 =