Psikologi Warna Dalam Marketing

P

Hidup penuh dengan warna.

Secara psikologis, warna dapat mengubah cara pandang dan perasaan kita.

Biru, misalnya. Warna yang melambangkan otoritas dan stabilitas, cocok digunakan di dunia perbankan.

Tak heran jika 4 dari 5 bank terbesar di Indonesia memiliki warna biru pada logonya.

Di Amerika Serikat, kecuali Wells Fargo, hampir semua bank terbesar memiliki warna biru pada logonya.

Sebaliknya, biru tidak cocok digunakan bagi produk makanan dan minuman. Kesan tidak alami, tiruan, seperti mengandung bahan pengawet dan pewarna yang membuatnya nampak mencurigakan dapat seketika menghilangkan selera.

Selama beberapa dekade, para pakar dengan yakin menyatakan bahwa produk makanan dan minuman berwarna biru tidak akan pernah berhasil di pasar. Dan itulah yang terjadi. Lihat saja Pepsi Blue atau Kalkun Panggang warna biru yang nampak sangat aneh jika dimakan berikut ini:

Di artikel ini, kita akan membahas topik menarik mengenai psikologi warna. Secara spesifik, saya akan coba menjelaskan psikologi warna untuk jualan, referensi yang dapat kamu gunakan saat melakukan marketing.

Saya akan mengulas warna-warna apa saja yang dapat dipilih untuk mendongkrak penjualan.

Warna adalah bahasa ibu dari alam bawah sadar. – Carl Jung

Dalam ilmu psikologi, efek isolasi membuat barang yang menonjol dan menarik akan lebih mungkin untuk diingat.

Data menunjukkan 93% pembeli fokus pada penampilan sebuah produk, dimana 84% menyatakan warna adalah hal primer yang selalu mereka perhatikan.

Studi marketing lain juga menemukan bahwa 90% orang akan mengambil keputusan secara cepat untuk membeli sebuah produk hanya berdasarkan warna.

Kita mungkin tidak punya merek mobil atau merek pakaian favorit. Tapi kemungkinan besar kita punya warna favorit.

Ini berarti, dalam beberapa kondisi, warna dapat menjadi pertimbangan utama yang membuat sesuatu jadi dibeli atau tidak.

Warna yang berbeda memang akan memberikan dampak psikologis yang berbeda pula.

Demikianlah, secara ilmiah, kita dapat lebih mudah mempengaruhi orang lain dan mengarahkan keputusan yang diambil dengan memahami warna serta efek yang dapat ditimbulkannya.

Sekarang mari kita bedah satu per satu secara umum tentang warna beserta kesan yang dapat ditimbulkannya:

Warna Putih

Putih memberikan Kesan Bersih dan Simple.

Apple terkenal dengan kampanye marketingnya yang cerdas dan sederhana.

Pada hampir semua media yang mereka gunakan, kita akan lebih banyak melihat area kosong berwarna putih yang nyaman di mata, tanpa terlalu banyak penjelasan fitur atau istilah teknologi tingkat tinggi, meninggalkan kesan sederhana, rendah hati, penuh kebaikan dan cerdas.

Warna Merah

Merah adalah warna yang kuat sekaligus hangat.

Merah cocok digunakan untuk menampilkan sesuatu yang berbeda dan menggugah semangat, juga membuatnya mudah diingat.

Coca Cola adalah contoh brand paling sukses dengan warna merah. Dari semula digunakan supaya agen pajak dapat membedakannya dengan alkohol selama pengangkutan, warna merah Coca Cola membuatnya lebih mudah untuk diingat dan ditemukan, lalu menjadi ikonik.

Warna Hijau

Hijau adalah warna yang dikaitkan dengan alam, kesehatan, kedamaian dan pertumbuhan, juga nuansa Islami. Hijau yang lebih tua diasosiasikan dengan kekayaan dan kemakmuran.

Dalam psikologi warna, hijau adalah warna yang paling mudah diproses oleh mata kita.

Starbucks adalah satu-satunya merek global yang menggunakan wana hijau tunggal dalam logonya. Warna hijau beserta putri duyung yang digunakan memberi kesan alami dan ajakan untuk bersantai sambil minum kopi.

Warna Kuning

Kuning mengomunikasikan perasaan optimis, ceria dan bahagia. Warna kuning identik dengan mainan anak-anak. Warna kuning yang terlihat menonjol juga dapat digunakan untuk memberi peringatan dan mendapat perhatian.

McDonalds dan IKEA menggunakan warna kuning untuk menarik perhatian dari jarak yang jauh. Sama halnya dengan rambu lalu lintas yang memberikan tanda bahaya yang didominasi oleh warna kuning.

Warna Biru

Biru identik dengan laut atau langit yang mengisyaratkan kedamaian, ketenangan, harmoni, stabilitas, dan kepercayaan.

Biru adalah warna yang dapat dipercaya, membuat orang merasa nyaman, mengingatkan mereka akan keandalan dan keamanan. Merek yang bertujuan membangun rasa percaya dengan pelanggannya, seperti bank dan perawatan kesehatan, biasanya menggunakan warna biru. Selain itu, ada banyak platform media sosial juga menggunakan warna biru karena sebagian orang mengasosiasikannya dengan kecerdasan dan komunikasi. Biru juga dapat merangsang produktivitas dan secara tidak langsung mendongkrak penjualan dengan meredakan kecemasan.

Warna Pink

Pink adalah warna populer untuk brand yang mempunyai sasaran audiens perempuan.

Selain itu, pink juga cocok untuk produk bayi, mainan, riasan, atau makanan penutup. Satu hal yang pasti, jangan gunakan warna pink untuk produk-produk yang berhubungan dengan kejantanan.

Warna Ungu

Ungu adalah warna kerajaan, mengingatkan orang akan keanggunan, prestise, kecanggihan, dan rasa hormat.

Warna ini sering dijadikan sebagai warna produk-produk kecantikan, fashion dan perhiasan.

Warna ungu juga memberikan kesan kreatif, imaginatif dan misterius.

Warna Oranye

Oranye atau jingga menunjukkan antusiasme. Warna oranye yang tersusun dari merah dan kuning memberikan efek yang kuat dan hangat. Oranye akan menarik perhatian bagi konsumen yang menyukai warna-warna terang.

Meski tersedia dalam berbagai warna, Fanta Orange menyumbang penjualan lebih dari 70% dibandingkan varian warna lainnya.

.

Dan well, tentu saja adalah masih banyak warna lain beserta semua varian dan kesan yang mungkin dapat ditimbulkannya.

Namun perlu juga dicatat jika pada skala tertentu, warna akan sangat bergantung pada pengalaman pribadi dan sulit untuk untuk diterjemahkan secara universal ke perasaan tertentu. Penelitian menunjukkan bahwa preferensi pribadi, pengalaman, perbedaan budaya, dan konteks dapat mempengaruhi efek warna terhadap masing-masing individu.

Tapi tentu saja, psikologi warna tetap dapat berguna sebagai referensi dan pertimbangan penting dalam pemasaran. Memilih warna yang tepat sesuai dengan kesan yang ditimbulkan akan membantu kita mengkomunikasikan pesan secara efektif sehingga dapat menjual dengan lebih banyak dan lebih mudah.

Salah satu penerapan paling mudah dari psikologi warna dalam pemasaran adalah tombol CTA.

Call to action atau “panggilan aksi” atau “panggilan untuk bertindak” adalah bagian yang sangat penting dari sebuah kampanye pemasaran. Call to action adalah bagian kecil yang mampu meningkatkan konversi.

Jika kamu pernah melihat sebuah tombol (button) atau tulisan yang berisi ajakan di awal, tengah atau akhir sebuah materi promosi, maka itulah yang disebut sebagai call to action.
Contoh paling mudah dari CTA adalah tombol “Buy Now” atau “Beli Sekarang”.

Bertahun-tahun perdebatan mengenai warna yang paling efektif untuk dipilih pada CTA mengerucut pada dua pilihan utama: hijau dan merah.

Dari beberapa studi yang pernah dilakukan, warna merah cenderung keluar sebagai pemenang karena lebih menonjol dan terlihat. Studi dari dmix menemukan jika tombol merah meningkatkan 34% lebih banyak konversi. Sementara studi dari Hubspot menyebutkan jika tombol merah 21% lebih unggul dibandingkan hijau.

Selain merah dan hijau, warna lain yang juga direkomendasikan digunakan untuk CTA adalah kuning, oranye dan biru.

Semoga bermanfaat.

telegram

About the author

Rianto Astono

an author, book obsessive, writing enthusiast, associate, blogger. Internet marketer since 2004.

Get in touch

Please send your email directly to rianto@gaptex.com or follow me via social channels below: